Lebih Dari Sekedar Bebas Finansial

“Freedom is, when you have nothing to lose”….

Saya senang sekali mendengar peribahasa tersebut. Saat kita merasa tidak ada sesuatu apapun yang bisa direbut dari kita, maka barulah kita menjadi orang bebas sesungguhnya. Bebas melakukan apa saja. Bebas bicara apa saja. Bebas pergi ke mana saja. Kita menjadi orang bebas sepenuhnya!

Mungkin anda juga akrab dengan peribahasa yang diangkat dari ajaran Tao: “Own nothing, then you cannot lose anything.” Ajaran Tao ini senafas dengan kata-kata yang diangkat di pembuka tulisan ini. Sungguh, kita tidak memiliki apapun. Karena itu kita tidak akan kehilangan suatu apapun. Semakin sedikit kepemilikannya, semakin bebas seseorang. Begitu kepemilikannya sampai pada titik nol, ia berada di puncak kebebasan.

Contoh ringan: Seorang kuli bangunan yang belum membayar uang kontrakan tertidur lebih nyenyak dari pada direktur perusahaan yang sedang berjuang menyelamatkan perusahaannya. Seorang suami yang memiliki satu istri berekspresi lebih bebas dalam keluarganya ketimbang pria yang beristri empat. Seorang siswa SMA yang memiliki tiga orang pacar sekaligus di sekolahnya, tentu tidak akan sebebas dan seleluasa temannya yang saat itu belum punya pacar satu pun. Orang yang memiliki rumah besar dengan banyak harta yang disimpan di dalamnya, tidak akan bebas berlama-lama meninggalkan rumahnya sebebas orang yang memiliki rumah sederhana dengan perabot ala kadarnya di dalam rumahnya.

Ini opini saya. Anda boleh setuju atau tidak. Penjelasan saya lebih lanjut mungkin bisa membuat anda tidak se-konfrontatif dengan saya saat ini.

Islam, memiliki ajaran yang senafas dengan makna ketiadaan kepemilikan yang akan membawa kepada kebaikan manusia itu sendiri. Namun “ketiadaan kepemilikan” ini harus digarisbawahi untuk dijelaskan dengan lebih jelas:

Bedakan antara “fakta” memiliki – dengan “perasaan” memiliki. Islam tidak melarang manusia untuk memiliki harta sebanyak-banyaknya. Bahkan menurut hemat saya, semakin kaya seseorang akan semakin banyak kesempatannya untuk beribadah dengan hartanya tersebut. Bahkan, dengan analogi bahwa zakat adalah salah satu rukun Islam, maka sesungguhnya setiap muslim itu wajib kaya agar bisa berzakat, dan haram untuk miskin karena tidak mampu berzakat – tafsir ekstrim yang bisa jadi benar.

Lantas apa yang dilarang Islam sehubungan dengan harta? Rasa memilikinya…. Islam tidak memperkenankan seseorang merasa memiliki harta meskipun harta itu didapat melalui kerja kerasnya sendiri. Dan Islam menekankan kepada setiap orang bahwa tidak ada secuil hartapun yang dimiliki manusia. Melainkan banyak atau sedikit, semua yang ada adalah milik Allah:

“Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan sungguh kepada-Nyalah kita semua akan kembali.” (Al-Baqoroh: 156)

Kalau diri kita saja adalah milik Allah, apalagi harta kita. Bukankah menjadi konsep umum bahwa setiap budak tidak memiliki harta, karena dirinya sendiri adalah milik tuannya? Sehingga apa yang menjadi miliknya adalah otomatis menjadi milik tuannya? Maka kalau diri manusia sendiri adalah milik Allah, maka istri, anak, jabatan, harta, harga diri, segalanya adalah milik Allah, mutlak.

Ajaran ini tidak malah membuat seseorang malas bekerja dan fatalistis. Karena yang menjadi titik tekannya adalah “rasa memiliki”. Jika seseorang telah meyakini hal tersebut, maka ia tidak akan sungkan berbagi kepada orang lain. Ia tidak akan sakit hati dan stress berkepanjangan ketika hartanya dibawa lari orang. Ia tidak akan frustasi ketika bisnisnya bangkrut atau ditipu orang.

Karena jika sikap tersebut tak dimiliki, seseorang akan menjadi pelit. Hatinya sempit. Selalu tidak puas. Seringkali mengalami konflik dengan teman, saudara, tetangga, klien, hanya karena materi/uang yang nominalnya tak seberapa.

Orang yang tahu bahwa kedudukan terhormatnya di dunia adalah milik Allah, tidak akan takut untuk berbuat baik, jujur, dan adil, meskipun sikapnya itu akan membuatnya kehilangan jabatan di dunia. Orang yang memiliki istri cantik, tidak akan berusaha “menghalalkan segala cara” untuk mempertahankan dan membahagiakan istrinya, karena ia tahu bahwa istrinya adalah titipan Tuhan semata. Istri yang memiliki suami dengan penghasilan baik dan kedudukan terhormat, tidak akan menyombongkan diri dan berhura-hura, karena ia tahu bahwa suaminya dengan segala kelebihan yang dimilikinya adalah kepunyaan Allah.

Maka orang yang menyadari, bahwa ia tidak memiliki suatu apapun, sambil meyakini bahwa Allah-lah pemilik segalanya, akan mendapati kehidupan yang lebih tenang. Kehidupan yang bahagia. Kebebasan yang sesungguhnya. Ia tidak lagi terikat kepada apapun di dunia ini. Ia sepenuhnya menjadi manusia yang independent. Satu-satunya dependensi/ketergantungannya hanyalah kepada Allah semata.

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (Al-Ikhlash: 2)

0 Responses to “Lebih Dari Sekedar Bebas Finansial”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: