Mengalirlah…, dan Tuntaskan Hidupmu!

Air. Jauh tinggi dari pegunungan. Keluar dari antara bebatuan. Maka ia tak ternoda dari debu; jernih, sejuk, lembut, menyegarkan, gemericiknya menjadi irama alam yang merdu tiada tandingan. Jikalau bisa memilih, mungkin air akan selamanya ingin berada di pegunungan. Di antara bebatuan lembut berlumut. Di antara bayang batang pepohonan yang tinggi menjulang, dihibur dengan dendang kicau burung dan semilir angin gunung.

Tapi tidak…! Tidak bisa. Karena sawah dan ladang menantinya. Binatang-binatang ternak setiap hari berteriak ingin dibasahi kerongkongannya. Bahkan manusia-manusia yang buang hajat, menggidik jijik dengan kotorannya sendiri, ingin segera membasuh dengannya.

Air harus turun. Sekali lagi, dan seterusnya, air turun. Memenuhi panggilan dan kebutuhan milyaran makhluk dan benda-benda yang membutuhkannya. Yang tidak sanggup menjalani hidup tanpanya.

Mulailah ia menyusuri sungai-sungai. Lumpur dan kotoran mulai menggelayutinya, merasuk dan menodainya. Membuatnya keruh dan beraroma. Tetapi hal tersebut tak dihiraukannya. Karena dalam benaknya ia punya satu tekad, “harus kutuntaskan tugasku. Mengairi ladang-ladang yang kering. Tenggorokan-tenggorokan yang dahaga. Badan, baju, dan perabot yang ternoda.”

Ada yang mengalir dan tertambat di sawah. Bercampur dengan pupuk kompos dan pestisida. Diinjak-injak tapak kaki petani yang lugu dan tak beralas. Menjadi permainan itik dan bebek yang mencari cacing di antara akar rumput yang menghujam di pekat liat lumpur cokelat. Air berkata, “Tak masalah…. Karena misiku harus kutuntaskan….”

Ada yang mengalir hingga ke pipa kran rumah. Dipakai untuk membilas bekas hajat oleh anak umur belasan tahun, dan… mengalir menuju jalan pembuangan buntu bernama septic tank. Gelap tak bercahaya. Tak ada di sekelilingnya kecuali kotoran, kotoran, dan kotoran. Dan ia terjebak di sana, lumer, menyatu, dan ikut membau. Air berkata, “Tak masalah, demi misi yang harus kutuntaskan.”

Ada juga yang dimasukkan ke dalam wadah. Dibuat mengeras, beku dalam freezer. Kedinginan tanpa kepastian. Dan beberapa lama, ia dipecahkan, dicairkan kembali, dibalut dengan sirup, diteguk ke dalam kerongkongan, masuk ke dalam usus. Membaur dengan seribu satu macam makanan yang mengendap di lambung. Di sana ia harus bekerja mengurangi beban usus manusia. Agar makanan dapat dicerna, dibawa sari-sari makanan tersebut – melalui darah – ke ujung rambut sampai ujung kuku. Begitu selesai, air keluar kembali, melalui pori-pori, ketiak, dan lubang pembuangan kotoran manusia yang lain. Sekali lagi, menjadi suatu yang dijijikkan, bau, dan aib bagi yang dihinggapinya. Dan sekali lagi ia berkata, “Tak masalah, jikalau dengannya misiku dapat terselesaikan.”

Apa yang air ajarkan kepadaku hari ini?

Kalau engkau adalah orang “suci” yang rajin beribadah, bertaubat, dan mendekatkan diri kepada Tuhan, maka, keluarlah dari tempat peribadatanmu. Karena manusia-manusia yang banyak berlumur dosa menanti. Menanti bimbingan dan bantuan. Untuk menemukan jalan kembali pulang kepada Tuhannya. Meskipun untuk itu kau harus meninggalkan sajadah tempatmu bersujud. Meninggalkannya sejenak terbengkalai di sudut masjid. Seperti air yang meninggalkan telaga jernihnya nun jauh di gunung sana, untuk menuju pemukiman manusia nan kumuh dan jorok.

Kalau engkau adalah orang “pintar” dan “cerdas,” tinggalkan sejenak perpustakaanmu. Biarkan halaman-halaman bukumu yang terbuka terbengkalai. Karena kau harus berbagi dengan orang-orang yang kering pengetahuan di luar sana. Mereka yang saraf otaknya kejang-kejang karena tidak pernah diasah. Mereka menunggu pencerahanmu. Agar tidak picik dalam bersikap, berpolah-wicara dan berpolah-laku. Persis seperti air yang harus membersihkan tinja dari tubuh manusia. Meskipun akhirnya air itu harus terperosok ke dalam septic tank yang gelap dan bau. Karena sesungguhnya, kebodohan yang melekat pada diri manusia itu lebih pekat dan lebih bau dari gelap dan pengapnya aroma kubangan kotoran manusia itu sendiri.

Kalau engkau adalah orang “kaya” yang pandai mendatangkan uang, bahkan dalam tidurmu uang tetap masuk ke dalam sakumu, bahkan dengan duduk-duduk saja orang bekerja untukmu, maka ketahuilah: jutaan – bahkan mungkin milyaran – manusia di luar sana butuh pencerahan financial darimu. Jangan biarkan mereka selamanya terjebak dalam kubangan kemiskinan. Dijadikan projek oleh pejabat-pejabat kaya untuk mengucurkan dana kemiskinan yang mengalir ke kantong penguasa-penguasa korup dan rakus. Kau harus turun bukan sekedar berbagi uang. Karena kau berhadapan dengan manusia, mereka punya otak untuk dilatih agar mampu mencari uang sendiri. Ya, memang butuh waktu dan usaha keras. Tapi tetap kau harus berbagi, laksana air yang harus mengaliri ladang. Meskipun dengannya air itu harus bercampur dengan lumpur, cacing, bahkan dicemari pestisida. Karena kemiskinan itu lebih berbahaya dan lebih beracun dari sekedar pestisida.

Berbagilah, basuhlah, mengalirlah. Pada saatnya nanti, kau akan sampai pada “muara kehidupanmu” – kematian. Di samudera mahsyar kau akan berbangga-bangga kepada yang lain bahwa engkau telah memberi banyak manfaat kepada penduduk bumi. Yang dengannya kamu mendapat perhatian khusus dari Tuhan. Hingga, seperti air laut yang menguap ke atas langit, menjadi ringan dan ditinggikan, engkaupun akan diangkat Tuhan dengan begitu ringannya. Menuju kedudukan yang tinggi di sisi-Nya.

Mengalirlah. Karena seperti air yang selalu menuju tempat yang rendah, kita semua pasti akan menuju-Nya melalui gaya gravitasi kehidupan yang terkenal, “kematian.

Mengalirlah selagi bisa, dan tuntaskan misi hidupmu…!

0 Responses to “Mengalirlah…, dan Tuntaskan Hidupmu!”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: