Berhenti Sejenak

“Lantas, hendak kemana langkahmu membawamu pergi?”

Pertanyaan tersebut selalu relevan untuk ditanyakan kepada setiap manusia. Karena banyak dari kita yang tidak pernah peduli dengan apa yang kita perbuat. Egoisme, keserakahan, nafsu, dan keinginan untuk mendapat pengakuan dan kehormatan di hadapan manusia telah membuat kita berbuat segalanya. Ya, segalanya….

Tidak ada lagi kesadaran bahwa segala yang kita perbuat, akan berdampak kepada kehidupan kita, cepat ataupun lambat. Hari ini, atau esok. Di sini, atau di tempat lain. Ya, keserakahan dan ambisi manusia telah membuatnya buta. Buta akan kenyataan bahwa orang lain juga adalah manusi, sama seperti halnya diri kita sendiri. Berhak atas keramahtamahan, penghormatan, kehidupan yang layak, dan kasih sayang.

Lantas, adakah suatu jaminan yang dapat menjadikan manusia tidak tersesat di tengah belantara dunia ini?

Bertolak dari pertanyaan Tuhan di atas, jawaban Ibrahim sang kekasih Allah, akan sangat membantu kita untuk selalu berada di atas track yang akan membawa kita tepat kepada-Nya:

Sesungguhnya langkahku menuju Tuhanku, karena hanya Dialah yang bisa membimbingku.”

Secara tak sadar, ikrar kita di awal rakaat shalat sebenarnya meniru spirit jawaban Ibrahim a.s. di atas. Apakah kita telah melupakannya? Oh, ya…. Aku ingat sekarang. Ya, tentu aku ingat;

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, seluruhnya aku dedikasikan hanya untuk Tuhan pemilik alam semesta ini.”

Jika kita rajin melaksanakan shalat, alangkah indahnya kata-kata yang kita ucapkan lima kali dalam satu hari satu malam tersebut. Ikrar tersebut memiliki konsekuensi luar biasa bagi seseorang yang memahaminya dan memiliki komitmen terhadap apa yang dipahaminya:

  • Pemurnian ritual. Seringkali kita tidak menyadari akan apa yang kita lakuka, termasuk shalat itu sendiri. saat berada di tempat kerja, kita melaksanakannya karena orang-orang sekitar, termasuk bos, melaksanakannya. Jadilah kita melaksanakan shalat dengan motivasi takut dibilang aneh, takut dibilang tidak punya komitmen terhadap diri sendiri, takut diasingkan dari orang lain, takut dikira tidak taat, dan lain-lain. Sepintas alasan tersebut tidak bermasalah, wajar-wajar saja, dan banyak di antara kita yang melakukan/mengalaminya. Jangan salah. Jika kita termasuk di antara orang-orang yang melakukan hal tersebut, hati-hatilah, kita sudah jatuh ke dalam syirik kecil, riya’. Bahwa ibadah kita bukan semata untuk Tuhan, namun untuk bos dan orang-orang sekitar kita.
  • Pemurnian akidah/keyakinan. Dengan melakukan riya (ingin dilihat orang lain), berarti kita mencederai keimanan kita. Lho, bagaimana mungkin? Saya kan shalat? Betul kita shalat! tetapi shalat kita karena orang lain. Suatu saat kita mendapat libur, atau cuti panjang, atau berada di suatu tempat yang asing dengan orang-orang yang tidak kita kenal di sekitar kita, maka sangat mungkin kita tidak shalat karena motivator eksternal kita tidak ada. Jadilah kita menyembah orang lain, dan bukan menyembah Tuhan. Lebih jauh, syirik adalah indikasi terselubung atas krisis keimanan. Bahkan lebih jauh, palsunya keimanan. Bagaimana tidak, pelakunya seolah-olah meyakini bahwa gaji dan pengakuan dari tempat kerjanya itu lebih baik dari pahala dan surganya Allah. Bahwa tidak meyakini adanya neraka yang dijanjikan Tuhan kepada hamba-Nya yang tidak taat, justru ia lebih takut akan isolasi dari lingkungan dan penilaian bosnya.
  • Memperbaiki orientasi hidup. Setelah bertauhid dengan benar, jelas arah hidup kita akan lebih terarah. Kita tidak lagi gelisah jika tidak mengikuti tren terkini, karena bagi kita tren utama adalah nilai-nilai yang diajarkan Tuhan. Buat kita caci maki manusia tidak akan mencelakakan lebih dari caci maki Tuhan, maka kita akan memiliki pendirian dan keyakinan hidup yang kokoh, lebih tegak dari pada batu karang. Dan pada akhirnya, kitalah yang akan menjadi trend setter di manapun kita berada. Minimal, kita tidak menjadi anak jaman yang menjadi korban globalisasi. Ketika ada angin bertiup ke barat, kitapergi ke barat. Angin bertiup ke timur, kitapun segera bergegas ke timur. Padahal mereka hanya mengikuti nafsu yang bisikannya bersumber dari setan, musuh nyata yang selalu ingin mencelakakan manusia!

Lantas, hendak kemana langkahmu akan kau bawa pergi? Ingin menjadi idola atau selebritis? Walau pun harus menjual kemolekan tubuhmu? Alankgah murahannya dirimu? Begitu umurmu menua, punggungmu membungkuk, kulitmu menjadi keriput, tubuh molekmu akan layu sepertu ulat bulu yang cairan tubuhnya dihisap predator…. Kau akan kehilangan kebanggaanmu. Jadilah hidupmu hanya seumur ketenaranmu. Selebihnya, kau akan bertemu dengan janji Tuhanmu, bahwa segala hal akan diminta pertanggung jawabannya…

Lantas, hendak kemana langkahmu akan kau bawa pergi? pencari tuhanMenuruti hawa nafsunya? berhura-hura selagi bisa? Mungkin ada uang dan ada tampang? Silahkan! kata Tuhan. Namun ingat, bahkan daun jatuhpun, ada catatannya di sisi Tuhan. Terlebih perbuatan seorang anak manusia. Rokib dan Atid senantiasa mencatat semua perbuatanmu.

Berhentilah sejenak. Pikirkan, renungkan sudahkah perbuatanmu bermanfaat bagi orang lain? sudahkah kamu berbuat yang patut terhadapa dirimu? Terhadap hidupmu sendiri? Atau, justru sebaliknya. Sudah berapa banyak orang yang engkau sesatkan? Sudah berapa banyak orang yang engaku celakai? Betapa seringkah engkah menebar kebencian?

Lantas, ke mana langkahmu akan kau bawa pergi?

0 Responses to “Berhenti Sejenak”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: