Israel Membantai Warga Sipil Di Pasar Gaza

Video yang wajib dilihat tentang kejahatan perang Israel di Jalur Gaza, Palestina. Serangan udara Israel yang brutal ini membantai puluhan wanita dan anak-anak tak berdosa. Sebuah tindakan teror yang sangat biadab.

Untuk melihat video kekejaman Israel ini, klik http://sabbah.blip.tv/#1644310


Lebih Dari Sekedar Bebas Finansial

“Freedom is, when you have nothing to lose”….

Saya senang sekali mendengar peribahasa tersebut. Saat kita merasa tidak ada sesuatu apapun yang bisa direbut dari kita, maka barulah kita menjadi orang bebas sesungguhnya. Bebas melakukan apa saja. Bebas bicara apa saja. Bebas pergi ke mana saja. Kita menjadi orang bebas sepenuhnya!

Mungkin anda juga akrab dengan peribahasa yang diangkat dari ajaran Tao: “Own nothing, then you cannot lose anything.” Ajaran Tao ini senafas dengan kata-kata yang diangkat di pembuka tulisan ini. Sungguh, kita tidak memiliki apapun. Karena itu kita tidak akan kehilangan suatu apapun. Semakin sedikit kepemilikannya, semakin bebas seseorang. Begitu kepemilikannya sampai pada titik nol, ia berada di puncak kebebasan.

Contoh ringan: Seorang kuli bangunan yang belum membayar uang kontrakan tertidur lebih nyenyak dari pada direktur perusahaan yang sedang berjuang menyelamatkan perusahaannya. Seorang suami yang memiliki satu istri berekspresi lebih bebas dalam keluarganya ketimbang pria yang beristri empat. Seorang siswa SMA yang memiliki tiga orang pacar sekaligus di sekolahnya, tentu tidak akan sebebas dan seleluasa temannya yang saat itu belum punya pacar satu pun. Orang yang memiliki rumah besar dengan banyak harta yang disimpan di dalamnya, tidak akan bebas berlama-lama meninggalkan rumahnya sebebas orang yang memiliki rumah sederhana dengan perabot ala kadarnya di dalam rumahnya.

Ini opini saya. Anda boleh setuju atau tidak. Penjelasan saya lebih lanjut mungkin bisa membuat anda tidak se-konfrontatif dengan saya saat ini.

Islam, memiliki ajaran yang senafas dengan makna ketiadaan kepemilikan yang akan membawa kepada kebaikan manusia itu sendiri. Namun “ketiadaan kepemilikan” ini harus digarisbawahi untuk dijelaskan dengan lebih jelas:

Bedakan antara “fakta” memiliki – dengan “perasaan” memiliki. Islam tidak melarang manusia untuk memiliki harta sebanyak-banyaknya. Bahkan menurut hemat saya, semakin kaya seseorang akan semakin banyak kesempatannya untuk beribadah dengan hartanya tersebut. Bahkan, dengan analogi bahwa zakat adalah salah satu rukun Islam, maka sesungguhnya setiap muslim itu wajib kaya agar bisa berzakat, dan haram untuk miskin karena tidak mampu berzakat – tafsir ekstrim yang bisa jadi benar.

Lantas apa yang dilarang Islam sehubungan dengan harta? Rasa memilikinya…. Islam tidak memperkenankan seseorang merasa memiliki harta meskipun harta itu didapat melalui kerja kerasnya sendiri. Dan Islam menekankan kepada setiap orang bahwa tidak ada secuil hartapun yang dimiliki manusia. Melainkan banyak atau sedikit, semua yang ada adalah milik Allah:

“Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan sungguh kepada-Nyalah kita semua akan kembali.” (Al-Baqoroh: 156)

Kalau diri kita saja adalah milik Allah, apalagi harta kita. Bukankah menjadi konsep umum bahwa setiap budak tidak memiliki harta, karena dirinya sendiri adalah milik tuannya? Sehingga apa yang menjadi miliknya adalah otomatis menjadi milik tuannya? Maka kalau diri manusia sendiri adalah milik Allah, maka istri, anak, jabatan, harta, harga diri, segalanya adalah milik Allah, mutlak.

Ajaran ini tidak malah membuat seseorang malas bekerja dan fatalistis. Karena yang menjadi titik tekannya adalah “rasa memiliki”. Jika seseorang telah meyakini hal tersebut, maka ia tidak akan sungkan berbagi kepada orang lain. Ia tidak akan sakit hati dan stress berkepanjangan ketika hartanya dibawa lari orang. Ia tidak akan frustasi ketika bisnisnya bangkrut atau ditipu orang.

Karena jika sikap tersebut tak dimiliki, seseorang akan menjadi pelit. Hatinya sempit. Selalu tidak puas. Seringkali mengalami konflik dengan teman, saudara, tetangga, klien, hanya karena materi/uang yang nominalnya tak seberapa.

Orang yang tahu bahwa kedudukan terhormatnya di dunia adalah milik Allah, tidak akan takut untuk berbuat baik, jujur, dan adil, meskipun sikapnya itu akan membuatnya kehilangan jabatan di dunia. Orang yang memiliki istri cantik, tidak akan berusaha “menghalalkan segala cara” untuk mempertahankan dan membahagiakan istrinya, karena ia tahu bahwa istrinya adalah titipan Tuhan semata. Istri yang memiliki suami dengan penghasilan baik dan kedudukan terhormat, tidak akan menyombongkan diri dan berhura-hura, karena ia tahu bahwa suaminya dengan segala kelebihan yang dimilikinya adalah kepunyaan Allah.

Maka orang yang menyadari, bahwa ia tidak memiliki suatu apapun, sambil meyakini bahwa Allah-lah pemilik segalanya, akan mendapati kehidupan yang lebih tenang. Kehidupan yang bahagia. Kebebasan yang sesungguhnya. Ia tidak lagi terikat kepada apapun di dunia ini. Ia sepenuhnya menjadi manusia yang independent. Satu-satunya dependensi/ketergantungannya hanyalah kepada Allah semata.

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (Al-Ikhlash: 2)

Mengalirlah…, dan Tuntaskan Hidupmu!

Air. Jauh tinggi dari pegunungan. Keluar dari antara bebatuan. Maka ia tak ternoda dari debu; jernih, sejuk, lembut, menyegarkan, gemericiknya menjadi irama alam yang merdu tiada tandingan. Jikalau bisa memilih, mungkin air akan selamanya ingin berada di pegunungan. Di antara bebatuan lembut berlumut. Di antara bayang batang pepohonan yang tinggi menjulang, dihibur dengan dendang kicau burung dan semilir angin gunung.

Tapi tidak…! Tidak bisa. Karena sawah dan ladang menantinya. Binatang-binatang ternak setiap hari berteriak ingin dibasahi kerongkongannya. Bahkan manusia-manusia yang buang hajat, menggidik jijik dengan kotorannya sendiri, ingin segera membasuh dengannya.

Air harus turun. Sekali lagi, dan seterusnya, air turun. Memenuhi panggilan dan kebutuhan milyaran makhluk dan benda-benda yang membutuhkannya. Yang tidak sanggup menjalani hidup tanpanya.

Mulailah ia menyusuri sungai-sungai. Lumpur dan kotoran mulai menggelayutinya, merasuk dan menodainya. Membuatnya keruh dan beraroma. Tetapi hal tersebut tak dihiraukannya. Karena dalam benaknya ia punya satu tekad, “harus kutuntaskan tugasku. Mengairi ladang-ladang yang kering. Tenggorokan-tenggorokan yang dahaga. Badan, baju, dan perabot yang ternoda.”

Ada yang mengalir dan tertambat di sawah. Bercampur dengan pupuk kompos dan pestisida. Diinjak-injak tapak kaki petani yang lugu dan tak beralas. Menjadi permainan itik dan bebek yang mencari cacing di antara akar rumput yang menghujam di pekat liat lumpur cokelat. Air berkata, “Tak masalah…. Karena misiku harus kutuntaskan….”

Ada yang mengalir hingga ke pipa kran rumah. Dipakai untuk membilas bekas hajat oleh anak umur belasan tahun, dan… mengalir menuju jalan pembuangan buntu bernama septic tank. Gelap tak bercahaya. Tak ada di sekelilingnya kecuali kotoran, kotoran, dan kotoran. Dan ia terjebak di sana, lumer, menyatu, dan ikut membau. Air berkata, “Tak masalah, demi misi yang harus kutuntaskan.”

Ada juga yang dimasukkan ke dalam wadah. Dibuat mengeras, beku dalam freezer. Kedinginan tanpa kepastian. Dan beberapa lama, ia dipecahkan, dicairkan kembali, dibalut dengan sirup, diteguk ke dalam kerongkongan, masuk ke dalam usus. Membaur dengan seribu satu macam makanan yang mengendap di lambung. Di sana ia harus bekerja mengurangi beban usus manusia. Agar makanan dapat dicerna, dibawa sari-sari makanan tersebut – melalui darah – ke ujung rambut sampai ujung kuku. Begitu selesai, air keluar kembali, melalui pori-pori, ketiak, dan lubang pembuangan kotoran manusia yang lain. Sekali lagi, menjadi suatu yang dijijikkan, bau, dan aib bagi yang dihinggapinya. Dan sekali lagi ia berkata, “Tak masalah, jikalau dengannya misiku dapat terselesaikan.”

Apa yang air ajarkan kepadaku hari ini?

Kalau engkau adalah orang “suci” yang rajin beribadah, bertaubat, dan mendekatkan diri kepada Tuhan, maka, keluarlah dari tempat peribadatanmu. Karena manusia-manusia yang banyak berlumur dosa menanti. Menanti bimbingan dan bantuan. Untuk menemukan jalan kembali pulang kepada Tuhannya. Meskipun untuk itu kau harus meninggalkan sajadah tempatmu bersujud. Meninggalkannya sejenak terbengkalai di sudut masjid. Seperti air yang meninggalkan telaga jernihnya nun jauh di gunung sana, untuk menuju pemukiman manusia nan kumuh dan jorok.

Kalau engkau adalah orang “pintar” dan “cerdas,” tinggalkan sejenak perpustakaanmu. Biarkan halaman-halaman bukumu yang terbuka terbengkalai. Karena kau harus berbagi dengan orang-orang yang kering pengetahuan di luar sana. Mereka yang saraf otaknya kejang-kejang karena tidak pernah diasah. Mereka menunggu pencerahanmu. Agar tidak picik dalam bersikap, berpolah-wicara dan berpolah-laku. Persis seperti air yang harus membersihkan tinja dari tubuh manusia. Meskipun akhirnya air itu harus terperosok ke dalam septic tank yang gelap dan bau. Karena sesungguhnya, kebodohan yang melekat pada diri manusia itu lebih pekat dan lebih bau dari gelap dan pengapnya aroma kubangan kotoran manusia itu sendiri.

Kalau engkau adalah orang “kaya” yang pandai mendatangkan uang, bahkan dalam tidurmu uang tetap masuk ke dalam sakumu, bahkan dengan duduk-duduk saja orang bekerja untukmu, maka ketahuilah: jutaan – bahkan mungkin milyaran – manusia di luar sana butuh pencerahan financial darimu. Jangan biarkan mereka selamanya terjebak dalam kubangan kemiskinan. Dijadikan projek oleh pejabat-pejabat kaya untuk mengucurkan dana kemiskinan yang mengalir ke kantong penguasa-penguasa korup dan rakus. Kau harus turun bukan sekedar berbagi uang. Karena kau berhadapan dengan manusia, mereka punya otak untuk dilatih agar mampu mencari uang sendiri. Ya, memang butuh waktu dan usaha keras. Tapi tetap kau harus berbagi, laksana air yang harus mengaliri ladang. Meskipun dengannya air itu harus bercampur dengan lumpur, cacing, bahkan dicemari pestisida. Karena kemiskinan itu lebih berbahaya dan lebih beracun dari sekedar pestisida.

Berbagilah, basuhlah, mengalirlah. Pada saatnya nanti, kau akan sampai pada “muara kehidupanmu” – kematian. Di samudera mahsyar kau akan berbangga-bangga kepada yang lain bahwa engkau telah memberi banyak manfaat kepada penduduk bumi. Yang dengannya kamu mendapat perhatian khusus dari Tuhan. Hingga, seperti air laut yang menguap ke atas langit, menjadi ringan dan ditinggikan, engkaupun akan diangkat Tuhan dengan begitu ringannya. Menuju kedudukan yang tinggi di sisi-Nya.

Mengalirlah. Karena seperti air yang selalu menuju tempat yang rendah, kita semua pasti akan menuju-Nya melalui gaya gravitasi kehidupan yang terkenal, “kematian.

Mengalirlah selagi bisa, dan tuntaskan misi hidupmu…!

Berhenti Sejenak

“Lantas, hendak kemana langkahmu membawamu pergi?”

Pertanyaan tersebut selalu relevan untuk ditanyakan kepada setiap manusia. Karena banyak dari kita yang tidak pernah peduli dengan apa yang kita perbuat. Egoisme, keserakahan, nafsu, dan keinginan untuk mendapat pengakuan dan kehormatan di hadapan manusia telah membuat kita berbuat segalanya. Ya, segalanya….

Tidak ada lagi kesadaran bahwa segala yang kita perbuat, akan berdampak kepada kehidupan kita, cepat ataupun lambat. Hari ini, atau esok. Di sini, atau di tempat lain. Ya, keserakahan dan ambisi manusia telah membuatnya buta. Buta akan kenyataan bahwa orang lain juga adalah manusi, sama seperti halnya diri kita sendiri. Berhak atas keramahtamahan, penghormatan, kehidupan yang layak, dan kasih sayang.

Lantas, adakah suatu jaminan yang dapat menjadikan manusia tidak tersesat di tengah belantara dunia ini?

Bertolak dari pertanyaan Tuhan di atas, jawaban Ibrahim sang kekasih Allah, akan sangat membantu kita untuk selalu berada di atas track yang akan membawa kita tepat kepada-Nya:

Sesungguhnya langkahku menuju Tuhanku, karena hanya Dialah yang bisa membimbingku.”

Secara tak sadar, ikrar kita di awal rakaat shalat sebenarnya meniru spirit jawaban Ibrahim a.s. di atas. Apakah kita telah melupakannya? Oh, ya…. Aku ingat sekarang. Ya, tentu aku ingat;

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, seluruhnya aku dedikasikan hanya untuk Tuhan pemilik alam semesta ini.”

Jika kita rajin melaksanakan shalat, alangkah indahnya kata-kata yang kita ucapkan lima kali dalam satu hari satu malam tersebut. Ikrar tersebut memiliki konsekuensi luar biasa bagi seseorang yang memahaminya dan memiliki komitmen terhadap apa yang dipahaminya:

  • Pemurnian ritual. Seringkali kita tidak menyadari akan apa yang kita lakuka, termasuk shalat itu sendiri. saat berada di tempat kerja, kita melaksanakannya karena orang-orang sekitar, termasuk bos, melaksanakannya. Jadilah kita melaksanakan shalat dengan motivasi takut dibilang aneh, takut dibilang tidak punya komitmen terhadap diri sendiri, takut diasingkan dari orang lain, takut dikira tidak taat, dan lain-lain. Sepintas alasan tersebut tidak bermasalah, wajar-wajar saja, dan banyak di antara kita yang melakukan/mengalaminya. Jangan salah. Jika kita termasuk di antara orang-orang yang melakukan hal tersebut, hati-hatilah, kita sudah jatuh ke dalam syirik kecil, riya’. Bahwa ibadah kita bukan semata untuk Tuhan, namun untuk bos dan orang-orang sekitar kita.
  • Pemurnian akidah/keyakinan. Dengan melakukan riya (ingin dilihat orang lain), berarti kita mencederai keimanan kita. Lho, bagaimana mungkin? Saya kan shalat? Betul kita shalat! tetapi shalat kita karena orang lain. Suatu saat kita mendapat libur, atau cuti panjang, atau berada di suatu tempat yang asing dengan orang-orang yang tidak kita kenal di sekitar kita, maka sangat mungkin kita tidak shalat karena motivator eksternal kita tidak ada. Jadilah kita menyembah orang lain, dan bukan menyembah Tuhan. Lebih jauh, syirik adalah indikasi terselubung atas krisis keimanan. Bahkan lebih jauh, palsunya keimanan. Bagaimana tidak, pelakunya seolah-olah meyakini bahwa gaji dan pengakuan dari tempat kerjanya itu lebih baik dari pahala dan surganya Allah. Bahwa tidak meyakini adanya neraka yang dijanjikan Tuhan kepada hamba-Nya yang tidak taat, justru ia lebih takut akan isolasi dari lingkungan dan penilaian bosnya.
  • Memperbaiki orientasi hidup. Setelah bertauhid dengan benar, jelas arah hidup kita akan lebih terarah. Kita tidak lagi gelisah jika tidak mengikuti tren terkini, karena bagi kita tren utama adalah nilai-nilai yang diajarkan Tuhan. Buat kita caci maki manusia tidak akan mencelakakan lebih dari caci maki Tuhan, maka kita akan memiliki pendirian dan keyakinan hidup yang kokoh, lebih tegak dari pada batu karang. Dan pada akhirnya, kitalah yang akan menjadi trend setter di manapun kita berada. Minimal, kita tidak menjadi anak jaman yang menjadi korban globalisasi. Ketika ada angin bertiup ke barat, kitapergi ke barat. Angin bertiup ke timur, kitapun segera bergegas ke timur. Padahal mereka hanya mengikuti nafsu yang bisikannya bersumber dari setan, musuh nyata yang selalu ingin mencelakakan manusia!

Lantas, hendak kemana langkahmu akan kau bawa pergi? Ingin menjadi idola atau selebritis? Walau pun harus menjual kemolekan tubuhmu? Alankgah murahannya dirimu? Begitu umurmu menua, punggungmu membungkuk, kulitmu menjadi keriput, tubuh molekmu akan layu sepertu ulat bulu yang cairan tubuhnya dihisap predator…. Kau akan kehilangan kebanggaanmu. Jadilah hidupmu hanya seumur ketenaranmu. Selebihnya, kau akan bertemu dengan janji Tuhanmu, bahwa segala hal akan diminta pertanggung jawabannya…

Lantas, hendak kemana langkahmu akan kau bawa pergi? pencari tuhanMenuruti hawa nafsunya? berhura-hura selagi bisa? Mungkin ada uang dan ada tampang? Silahkan! kata Tuhan. Namun ingat, bahkan daun jatuhpun, ada catatannya di sisi Tuhan. Terlebih perbuatan seorang anak manusia. Rokib dan Atid senantiasa mencatat semua perbuatanmu.

Berhentilah sejenak. Pikirkan, renungkan sudahkah perbuatanmu bermanfaat bagi orang lain? sudahkah kamu berbuat yang patut terhadapa dirimu? Terhadap hidupmu sendiri? Atau, justru sebaliknya. Sudah berapa banyak orang yang engkau sesatkan? Sudah berapa banyak orang yang engaku celakai? Betapa seringkah engkah menebar kebencian?

Lantas, ke mana langkahmu akan kau bawa pergi?



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.